Kupang Selayang Pandang: Jagung Bose, Se’i Hingga Tumis Buaya
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Gilimanuk yang notabene jadi pintu gerbang Bali Barat, akhirnya sampai juga ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Segera setelah boarding pass ada di tangan, kami langsung menuju ruang tunggu mendekati pintu keberangakatan (Gate 1B).
Pesawat dijadwalkan berangkat pukul 10.00 WITA, namun keberangakatan yang sudah dijadwalkan mengalami penundaan hingga dua kali. Menunggu sekian jam, akhirnya ada seruan agar para penumpang pesawat Super Air Jet tujuan Bandara El Tari Kupang menuju gate 1B. Segera antrian penumpang berbaris rapi menuju pesawat. Perjalanan udara ditempuh dalam 1 jam 50 menit dan TOUCH DOWN Kupang. Akhirnya kakiku menginjak tanah Pulau Timor. Provinsi Nusa Tenggara Timor (NTT) memiliki julukan utama Flobamorata, yang merupakan akronim dari gabungan nama-nama pulau besar di wilayahnya, yaitu Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Lembata.
Dari bandara saya berkeliling-keliling Kota Kupang sambil menikmati pemandangan laut. Sayang sekali hari sudah gelap jadi pemandangan tidak maksimal. Destinasi pertama sampai ke Kelapa Lima. Sepanjang jalan banyak penjual ikan segar berderet-deret menawarkan ikan segar yang aduhai besarnya untuk bakaran, ikan Kakap, Tuna, dll. Banyak spot dibuat serupa dengan alat musik NTT yang ikonik, Sasando. Setelah puas mengabadikan momen di Kelapa Lima, perjalanan berlanjut ke Kampung Solor pusat kuliner seafood. Tempat-tempat makan sudah full pengunjung bahkan ada yang sudah dipesan terlebih dahulu. Semakin malam semakin ramai pengunjung datang untuk sekadar makan malam bersama teman atau keluarga.

Mencicipi makanan khas Kupang: Jagung Bose
Hari ke-2 diawali dengan olahraga pagi di CFD. Beda dengan kota lain atau di Jakarta, CFD di Kupang diadakan Sabtu, karena Minggu mereka beribadah di gereja. Berhubung penduduknya mayoritas beragama Kristen maka bisa dipastikan sebagian besar mereka pergi ke gereja. Kesempatan ini dimanfaatkan warga untuk membawa hasil kebun atau dagangan untuk dipasarkan di acara CFD ini, seperti: buah, sayuran, makanan, kerajinan dll. Pada kesempatan kali ini, saya mencoba makanan khas Kupang: Jagung Bose.

Makanan khas Kupang, NTT berbahan dasar jagung yang paling ikonik adalah Jagung Bose (bubur gurih bersantan) dan Jagung Titi (camilan pipih renyah). Selain itu, terdapat pula Catemak Jagung yang disajikan sebagai hidangan penutup atau sayur berkuah. Makan Jagung Bose beserta ikan lawar (mentah) dan tumis buaya (bunga pepaya) dilengkapi dengan sambal juga minum air kelapa muda di tepi Lasiana Beach sungguh nikmat sekali.

Permukaan Daratan yang Tandus
Sejauh mata memandang daratan Kupang, saya menemukan batu karang di mana-mana. Hampir seluruh permukaan daratan dipenuhi batu karang. Anehnya, ada tanaman yang tumbuh di atas batu karang seperti: jagung, singkong, pisang, papaya, bunga Flamboyan dan pohon Lontar serta lainnya. Suhu rata-rata pada siang hari di Kupang, Nusa Tenggara Timur, umumnya berkisar antara 29 derajad Celcius hingga 31 derajad Celcius tergantung pada musim dan cuaca harian. Wilayah Kupang, memiliki iklim sabana tropis dengan dua musim yang sangat ekstrim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Rata-rata curah hujan tahunan di kawasan ini berkisar antara 1.250mm hingga 1.500mm per tahun. Musim Hujan mencapai puncaknya sekitar bulan Januari-Februari, sedangkan Musim Kemarau (kering) terjadi sekitar bulan Juli, Agustus, September.

Sebagian besar sayuran di Kota Kupang dikirim dan disuplai dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), khususnya dari daerah berhawa dingin seperti Kawasan SoE dan Mollo, serta dari wilayah Kabupaten Kupang sendiri (seperti Oesao dan Kupang Timur).
Riuh lapak daging babi
Ada hal yang menarik ketika saya berkeliling Kota Kupang, saya melihat banyak pedagang daging babi menggelar dagangannya (menggantungkannya) di lapak-lapak depan rumah mereka. Mereka seperti sudah biasa dan tak ada masalah dengan daging babi yang mereka pajang. Tak ada rasa khawatir akan ada penggrebekan atau lainnya. Sapi dan babi adalah dua hasil ternak utama di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT dikenal sebagai salah satu pusat peternakan nasional dengan populasi ratusan ribu hingga jutaan ekor, yang menjadi sumber daging tabungan warga, serta pendukung budaya lokal.
Pada siang itu saya berkesempatan menikmati masakan khas NTT, daging Se’I yang diasap menggunakan daun kosambi (atau sering ditulis kesambi). Proses pengasapan tradisional ini melibatkan dua elemen utama dari pohon kosambi untuk menciptakan cita rasa yang autentik.

Senang sekali berkesempatan mengunjungi dan melihat bumi Indonesia bagian lain yang tak kalah indahnya dengan Pulau Jawa. Sehingga saya bisa berbagi cerita tentang NTT, Lombok, Manado (Tomohon), Sumatera (Kepri, Palembang, Bangka, Belitung), Bali. Itulah tempat atau daerah yang sempat saya kunjungi. Indonesia tanah yang subur dan indah. Ada banyak potensi yang bisa kita gali dan kembangkan. Dengan segala macam ragam budaya dan kekayaan alamnya, sungguh layak bersanding dengan negara-negara tetangga. (Herdiyanti Dwi Laksitarini)
Herdiyanti Dwi Laksitarini adalah founder NISITA English Club, sebuah program belajar Bahasa Inggris gratis bagi anak-anak sekolah dasar di Gilimanuk. Di sela-sela bisnis home catering yang ia jalankan, ia aktif menulis pengalaman travelling keliling Indonesia.



Post Comment