Akibat Pixie Cut
Pernah suatu ketika, saya tiba-tiba saja ingin potong rambut sangat pendek. Bukan karena patah hati, atau terpengaruh apa kata teman, tetapi karena sungguh-sungguh sudah bosan dengan model rambut yang itu-itu saja. Akhirnya, pilihan saya jatuh ke model rambut pixie-cut. Tanpa pengumuman, saya serta-merta ke salon. Dengan cekatan, capster memangkas habis rambut saya yang saat itu kira-kira sedada panjangnya. Begitu gunting dan sisir berhenti berayun, saya pun pulang dengan gembira. Tidak ada penyesalan sama sekali.
Sesuai dugaan, selama beberapa hari selanjutnya, Bapak dan Ibu tidak berhenti mengoceh. Keduanya merasa saya terlalu gegabah. Tak ada angin, tak ada hujan, putri sulung mereka menggunting begitu saja rambut panjang yang sudah dirawat beberapa tahun. Tapi sungguh, kepercayaan diri saya tidak luntur meskipun saya tahu Bapak curiga saya terpengaruh napza. Dagu saya tetap terangkat, apalagi saat teman-teman sekantor saya justru melempar pujian, bukan celaan. Katanya, saya keren dan berani. Well, this the new me, boldly chic!
Hingga akhirnya saya berkenalan dengan seorang pria dan sedikit menaruh hati. Saya mulai menyadari ada yang berubah sejak kami PDKT. Putri yang sebelumnya luwes dan selalu dar-der-dor dalam berbalas pesan dengan cowok, mendadak kaku. Saya tiba-tiba merasa nggak pantas mengeluarkan pick-up line andalan yang girly dan manja. Pikir saya, ya, masa cewek badass, dinamis, dan penuh statement gini nge-chat cowok, “Ikan cucut ikan hiu, kamu cute aku miss you.” Whoek! Nggak puantes blasss! Boro-boro teleponan dengan ‘baby voice’, sekadar mengetik nice to know you saja sudah membuat saya geli duluan.
Itu baru perkara chatting, perkara baju pun jadi panjang urusannya. Berjam-jam saya mematut diri di depan cermin, tetap saja tak kunjung menemukan padanan baju yang pas. Mau pakai jeans dengan stilleto, tapi pinggang ke atas nampak macho. Sementara kalau pakai dress kembang-kembang, kok rasanya nggak nyambung dengan potongan rambut Joan of Arc mau maju perang.

Ternyata, tanpa disadari, perubahan gaya rambut mengubah sesuatu dalam diri saya. Memang bukan kepercayaan diri saya yang hilang, tapi ternyata jati diri. Rasanya seperti ada yang tidak sinkron antara penampilan dengan karakter saya. Bersamaan dengan ditebasnya rambut panjang hitam legam itu, ditebas pula segala karakteristik feminin yang tadinya secara otomatis tersemat dalam diri Putri si “Gadis Tiara Sunsilk”.
Baru setelah saya mencari tahu sana-sini, saya memahami bahwa gaya rambut ternyata bukan hanya mode. Lebih dari itu, gaya rambut erat kaitannya dengan stereotip gender, identitas, dan norma budaya. Penelitian oleh Bereczkei dan Mesko dari Departmen Psikologi dan Institute of Behavioral Science University of Pecs, Hungaria, menunjukkan bahwa perempuan dengan rambut pendek kerap dipandang sebagai sosok yang profesional dan tegas. Perempuan dengan rambut pendek mungkin memandang diri mereka sebagai sosok yang kompeten, tetapi orang lain mungkin menganggap mereka kurang hangat. Nah, stereotip ini sukses menyabotase pikiran saya sendiri. Makanya saya jadi kehilangan ke-girly-an saya! Sebelum saya PDKT, saya pede dengan persona profesionalisme mentok. Tapi begitu harus merayu, auto kicep. Memang betul, pergeseran budaya modern, memunculkan pandangan baru terhadap perempuan berambut pendek. Kini rambut pendek cewek dianggap sebagai simbol kemerdekaan. Ya, tapi tetap saja saya keder, konteksnya saya mau kencan, bukan mau aksi long march!

Alhasil, saat itu saya tidak jadi kencan. Saya memutuskan untuk menunggu beberapa minggu sampai rambut saya sedikit memanjang sehingga bisa dikuncir meskipun sedikit. Ajaib memang, bagaimana rambut yang tumbuh baru empat senti itu ternyata bisa mengembalikan kepribadian saya yang lama. Kini, begitu notifikais ponsel bunyi TING! Secara otomatis jemari membalas chat: Ikan hiu jalannya maju. Nawaitu someday with you!
Penulis: Putri Kinasih
Editor: Herdiyanti Dwi Laksitarini
Putri Kinasih adalah seorang dosen Bahasa Inggris di sebuah universitas swasta di Jakarta. Ia juga dikenal sebagai seorang penulis novel, violinist dan reviewer film. Beberapa karyanya telah diterbitkan penerbit ternama seperti Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan GLITZY (Gramedia). Kini selain mengajar, ia aktif menjadi kontributor untuk rubrik Reno-Reno.



Post Comment