Komentar Positif VS Komentar Negatif

Komentar Positif VS Komentar Negatif

Orang Indonesia itu pelit memberi pujian.

Begitu lontaran yang sering kita dengar. Mungkin, kecenderungan ini terpengaruh oleh pola didik budaya Jawa. Budaya Jawa menganggap memberi pujian bukan sikap-sikap yang dianggap penting. Menurut Hildred Geertz (Suseno, 1984:63-65), orang Jawa hanya melatihkan tiga perasaan, yakni: wedi (takut), isin (malu), dan sungkan.
Padahal, memberi pujian dalam takaran yang tepat, banyak manfaatnya. Anak merasa dihargai. Anak jadi percaya diri. Anak makin semangat belajar. Anak termotivasi untuk menjadi lebih baik. Anak muncul keinginan untuk berhasil. Dan tentu saja, pujian bisa membuat relasi orangtua-anak makin rekat.

Komentar-Positif-VS-Komentar-Negatif-1024x998 Komentar Positif VS Komentar Negatif
Ilustrasi: AI-generated image. Gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan hanya digunakan sebagai ilustrasi visual untuk mendukung isi artikel.

Sebaliknya, celaan lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Sakit hati, kepahitan, konflik, dendam, kemarahan, hubungan yang retak, dan seabrek buah pahit yang lain.
Sayangnya, orangtua sadar atau tidak, dalam mendidik anak lebih banyak memberi komentar negatif daripada komentar positif. Jack Canfield, seorang pakar masalah kepercayaan diri, pernah melakukan riset (Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, 1992:24-25). Riset ini berfokus pada berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima anak dalam sehari. Hasilnya, setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung.
Yang perlu disadari, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki mengingatkan, ternyata umpan balik negatif yang diberikan secara terus-menerus ini sangat berbahaya. Akibatnya bisa fatal. Anak akan mengalami “kemandekan belajar”. Simtonnya jelas, anak-anak ini takut sekolah, malas membaca, enggan mengerjakan PR, stres dengan tugas-tugas. Intinya mereka merasa tegang dan terbebani dengan kata belajar.

Ketidaknyamanan bahkan pemberontakan anak untuk belajar semakin menjadi, jika di sekolah mereka bertemu guru-guru yang tidak profesional. Guru-guru yang oleh Dr. Andar Ismail (1997:58) dicirikan sebagai guru yang menganggap mengajar cuma lahan cari makan bukan panggilan hidup. Guru seperti ini tidak mengajar dengan sepenuh hati tapi setengah hati. Tanpa kesungguhan. Cuma andalkan otak, bukan hati. Mereka mengajar bukan sebagai kesempatan tapi kewajiban.

Kembali pada orang tua, guru, pendidik, karena tahu komentar negatif berbahaya, maka perbanyaklah komentar positif. Ingatlah bagaimana anak-anak belajar berjalan. Meski beberapa kali terjatuh, mereka tak pernah merasa gagal. Mengapa bisa demikian? Bobbi DePorter dan Mike Hernacki memberi jawab: karena mereka tidak mengenal konsep kegagalan. Mereka dibantu orangtua yang yakin, bahwa anak-anak mereka akan berhasil jika mereka terus berusaha. Yang tak kalah penting, setiap keberhasilan pasti diakhiri dengan kegembiraan dan tepukan.

 

Komentar-Positif-VS-Komentar-Negatif-Ilustrasi Komentar Positif VS Komentar Negatif
Ilustrasi: AI-generated image. Gambar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan hanya digunakan sebagai ilustrasi visual untuk mendukung isi artikel.

Akhirnya, mari kita belajar memberi pujian. Tidak ada kata terlambat. Jika anak-anak atau pasangan melakukan yang baik, yang benar, yang manis, yang sedap didengar, yang adil, jangan ragu berikan pujian.
Saya sangat percaya pujian tidak saja membuat anak termotivasi, tapi juga menyembuhkan. Tak usah pelit memberi pujian. Anda dan saya tidak harus membeli saat memberikannya. Cukup rogoh hati Anda yang paling tulus. Lalu ambil pujian. Berikan dengan motivasi paling bening. Tanpa vested interest. Tanpa pamrih, tanpa udang di balik batu. (Basuki)

Penulis: Basuki, pensiunan guru, penulis, dan trainer di bidang pendidikan. Kini menetap di Gilimanuk, Bali.
Editor: Herdiyanti Dwi Laksitarini

Share:

Post Comment